Syaffa’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Menyoal RUU Kesehatan dan Isu ‘Kesehatan Reproduksi’

Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa saat ini DPR sedang menggodok RUU Kesehatan yang baru, menggantikan UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992. RUU Kesehatan yang sudah diproses beberapa tahun lalu itu sedianya akan disahkan menjadi UU September mendatang oleh DPR Periode 2004-2009. Namun, dengan sisa waktu yang tinggal dua bulan lagi, pengesahan UU tersebut kemungkinan bisa disahkan tahun ini, tetapi mungkin juga baru bisa disahkan oleh DPR hasil Pemilu 2009 atau DPR Periode 2009-2014.

Di antara hal penting yang terus didorong-dorong oleh sejumlah kalangan—khususnya para aktivis perempuan—agar masuk dalam RUU Kesehatan yang baru itu adalah ihwal kesehatan reproduksi perempuan. Cedaw Working Group Initiative, misalnya, mengusulkan agar RUU Kesehatan yang baru bisa mengakomodasi kesehatan reproduksi perempuan (TVOne.co.id, 10/7/2009).
Agenda Terselubung

Gagasan di seputar ‘kesehatan reproduksi perempuan’ sebetulnya tidak dilepaskan dari agenda global penjajahan Barat. Upaya untuk mewujudkan gagasan ini adalah langkah lain yang dilakukan Barat yang dimotori AS untuk semakin melemahkan negara-negara berkembang, khususnya negeri-negeri Muslim, dengan cara menekan populasi (jumlah) penduduknya; selain melalui program pembatasan kelahiran melalui program KB, larangan menikah dini, dll.

Jumlah penduduk Indonesia, misalnya, sudah mencapai 238 juta dengan pertumbuhan penduduk pertahun 3,2 juta jiwa. Dengan laju pertumbuhan seperti ini, dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan menyalip jumlah penduduk Amerika Serikat (AS). Negara-negara maju seperti AS memiliki kekhawatiran yang tinggi terhadap laju pertumbuhan penduduk di Dunia Islam seperti Indonesia. Pasalnya, negara-negara maju saat ini mengalami penurunan tingkat pertumbuhan penduduk karena rendahnya angka kelahiran. Akibatnya, penduduk Dunia Islam memiliki hak suara yang lebih tinggi dalam percaturan kelembagaan internasional daripada dunia Barat (Jurnal-ekonomi.org, 2/09/08).

Karena itu, Barat mengembangkan dan menerapkan strategi untuk menekan laju pertumbuhan di Dunia Islam dengan dua strategi: kontrol populasi dan genosida (pembantaian massal) melalui “kesehatan reproduksi”. Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh Barat, khususnya AS, untuk menghentikan ledakan jumlah penduduk di negeri-negeri Islam adalah sebagai berikut:

Pertama, pada tahun 1960-an telah diungkapkan secara terang-terangan oleh para pemimpin Eropa dan Amerika untuk melakukan ‘pemusnahan total’ terhadap bangsa-bangsa ‘tertentu’ secara bertahap.

Kedua, tahun 1974, atas permintaan Menteri Luar Negeri AS saat itu, Henry Kissinger, AS mengeluarkan dokumen National Security Study Memorandum 200, 1974 (NSSM, 200) yang menggambarkan kebencian dan rencana AS untuk menghabisi kaum Muslim. Intinya, mereka menyebut masalah kelebihan penduduk dunia sebagai “musuh” yang mengancam keamanan nasional Amerika. Dokumen NSSM 200 yang juga disebut Kissinger’s Report itu hingga hari ini tidak pernah dicabut. Penting dicatat, dokumen itu menyebut Indonesia sebagai salah satu dari 13 negara target utama politik depopulasi (pengurangan jumlah penduduk) (hli.org/nssm_200_exposed.html).

Ketiga, pada bulan Mei 1991, pemerintah AS telah mempublikasikan beberapa dokumen rahasia yang isinya berupa pandangan pemerintah AS, bahwa pertambahan penduduk Dunia Ketiga merupakan ancaman bagi kepentingan dan keamanan AS.

Keempat, AS mengandeng PBB (melalui Lembaga UNDP, UNFPA) dan Bank Dunia untuk mengarahkan opini dunia, bahwa “pertumbuhan penduduk adalah sebuah masalah bagi Afrika, Amerika Latin dan Asia”.

Kelima, AS telah menyalurkan dana yang cukup besar untuk mewujudkan dua strategi ini. Dalam suatu laporan USAID dinyatakan, tahun 1965 sampai dengan 1974, AS telah menetapkan anggaran US$ 625 juta untuk kepentingan kontrol populasi. Anggaran yang telah dihabiskan dari tahun 1968 hingga 1995 adalah sejumlah US$ 1,5 miliar. Dana sebesar itu di antaranya digunakan untuk membeli sekaligus mendistribusikan alat kontrasepsi berupa 10,5 juta kondom, 2 juta pil aborsi, lebih dari 73 juta IUD, lebih dari 116 juta tablet vaginal foaming. Semua bantuan itu ditujukan untuk negara-negara yang dinamakannya LCDs/Negara-negara berkembang (baca: Negeri-negeri Muslim). Bantuan itu di antaranya disalurkan melalui UNFPA, WHO, UNICEF, ILO, UNESCO, World Bank, ADB (Tatad, 2008).
Program KB dan Wacana ‘Kesehatan Reproduksi’

Di Indonesia, program pembatasan kelahiran dikenal dengan istilah halus ”Keluarga Berencana (KB)”. Organisasi internasional yang mempelopori KB adalah International Planned Parenthood Federation (IPPF) yang berdiri pada tahun 1952 berpusat di London, terdiri dari delapan negara (di antaranya AS dan Inggris). IPPF membentuk federasi dengan tujuan pemberdayaan perempuan dalam mengakses layanan kontrasepsi. Selanjutnya di Indonesia didirikan sebuah LSM bernama PKBI (Perkumpulan KB Indonesia) pada tanggal 23 Desember 1957 di Jakarta, yang kemudian pada tahun 1967 PKBI menjadi anggota Federasi Keluarga Berencana Internasional (IPPF) yang berkantor pusat di London. PKBI sebagai cabang dari IPPF memiliki kesamaan dari visi dan misinya. Hal ini semakin memperjelas bahwa program KB adalah rekayasa Barat atas negeri Muslim.

Di Indonesia selama program KB dijalankan (1967-2000) kelahiran tercegah mencapai 80 juta, dan diperkirakan hingga tahun 2009 kelahiran tercegah menjadi 100 juta (Syarief, 2009).

Kemudian pada tahun 1994, dengan dihadiri sekitar 180 negara, Barat melalui UNPFA-PBB menyelenggarakan Konferensi ICPD di Kairo. Konferensi ini menghasilkan kesepakatan tentang ‘kesehatan reproduksi’ (Kespro) sebagai salah satu program kesehatan yang harus menjadi prioritas di semua negara di dunia.

Jika kita amati, kesehatan reproduksi yang diusung ICPD tidak sekadar menghendaki adanya kontrol populasi, tetapi juga ‘genosida’ (pembantaian massal). Ini dapat dibuktikan dari arsip tentang rencana Kerja ICPD terkait Kesehatan Reproduksi.
Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang merupakan salah satu unsur Kespro sudah digencarkan sejak diratifikasi pada tahun 1994 dan diresmikan sebagai program Pemerintah pada tahun 2000. Filosofi Pogram KRR adalah remaja harus mendapatkan pengetahuan seksualitas dan Kespro sesuai dengan kerangka kerja ICPD agar remaja tidak melakukan seks bebas dan mengalami berbagai masalah Kespro. Remaja harus mendapat penjelasan tentang perubahan fisik dan psikis remaja; alat kelamin (organ reproduksi), berikut bagaimana proses reproduksi terjadi; kehamilan dan cara pencegahan KTD (Kehamilan Tidak Dikehendaki), ‘aborsi aman’; homo dan lesbi harus diakui sebagai suatu identitas seksual; seks bebas yang ‘aman’; juga info tentang berbagai penyakit menular seksual serta cara pencegahannya (Budiharsana, 2002).

Namun hasilnya, alih-alih reproduksi sehat, yang terjadi justru sebaliknya. Seks bebas yang menjadi pokok pangkal berbagai masalah KRR justru semakin marak dalam kehidupan remaja. Buktinya, terjadi peningkatan persentase remaja yang melakukan seks bebas sebesar 32,7-52,7%. Pada tahun 1992, sebelum ada program KRR, berdasarkan penelitian YKB di 12 kota besar Indonesia, ada 10-31% seks bebas. Lalu pada tahun 2008, setelah 14 tahun KRR digencarkan, meningkat menjadi 62,7% (Hasil survey KPA di 33 propinsi).

Lebih dari itu, KRR tidak lain bentuk kontrol populasi karena:

1. Adanya target penundaan usia perkawinan alias “larangan menikah di usia muda”. Untuk mencegah pasangan usia subur menikah dini (di bawah usia 20 tahun), Pemerintah mengeluarkan program Penundaan Usia Perkawinan (PUP) sebagai bagian dari Program KB Nasional (Sumber: Buku PUP dan Hak-Hak Reproduksi Remaja di Indonesia, BKKBN, Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi, Jakarta,2008).

2. Penggunaan kontrasepsi. Kaum ibu dengan usia 20-35 tahun dianjurkan untuk menjarangkan kehamilan dengan hanya membatasi jumlah anak selama rentang 15 tahun dengan 2 anak (jarak 7-8 tahun). Bahkan pencegahan kehamilan akan tetap dilakukan setelah berusia 35 tahun. Seluruh pencegahan kehamilan diarahkan untuk menggunakan alat kontrasepsi.
Program KRR tidak hanya mengarahkan kontrol populasi, tetapi juga ‘genosida’ (pembantaian massal), karena:

1. Memfasilitasi aborsi (pengguguran kandungan’) meski dikatakan ‘aman’. Dalam konteks KRR, jika seks bebas mengakibatkan terjadi kehamilan tak diinginkan (KTD) maka atas nama hak reproduksi serta terwujudnya mental yang sehat—menurut definisi ICPD—remaja diberi sarana untuk mengakhiri hasil perzinaannya itu dengan aborsi. Di Indonesia, berdasarkan survei KPA tahun 2008, ternyata 25% atau sekitar 7.000.000 remaja yang melakukan seks pranikah itu mengakhiri nyawa janinnya di meja aborsi. Lalu akibat berbagai komplikasi setelah tindakan aborsi, ada sekitar 42.000 remaja putri pelaku seks bebas yang meregang nyawa akibat perbuatan maksiat itu.

2. Memperluas penyebaran penyakit HIV/AIDS. Dalam KRR terdapat anjuran menggunakan kondom untuk seks yang katanya ‘aman’. Padahal kondom tidak bisa mencegah penularan virus HIV/AIDS yang melumpuhkan sistem pertahanan tubuh dan berujung pada kematian. Dengan demikian, memfasilitasi seks bebas sama saja dengan ‘menfasilitasi kematian’. Inilah bukti pembantaian massal’ melalui KRR.
Solusi Islam

Isu ‘ledakan jumlah penduduk’ atau ‘kelebihan populasi’ hanyalah alat yang sangat berguna untuk menjelek-jelekkan negara-negara dengan pertumbuhan penduduk yang besar (baca: negeri-negeri Muslim) dan pada saat yang sama mengurangi risiko berkurangnya pengaruh negara-negara maju di masa datang. Kaum Muslim tentu harus sadar terhadap konspirasi ini. Sebab, jumlah penduduk kaum Muslim yang besar adalah modal potensial untuk membangun SDM yang tangguh dan akan memimpin dunia.

Lagipula banyaknya jumlah penduduk di dunia tidak akan menjadi masalah berarti. Sebab, pada dasarnya Allah SWT menjamin ketersediaan sumberdaya alam ini untuk menopang kehidupan manusia sampai Hari Kiamat (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 22). Yang menjadikan sebagian manusia mengalami kemiskinan atau krisis pangan (kurang gizi/kelaparan) tidak lain karena kerakusan ideologi Kapitalisme Barat. AS, misalnya, hanya memproduksi 8% minyak bumi, namun mengkonsumsi 25% jumlah minyak bumi yang ada dunia. Jumlah penduduk Barat hanya sekitar 20% dari populasi dunia, namun menghabiskan 80% dari produksi pangan dunia. (Jurnal-ekonomi.org, 2/9/08).

Jelas, semua agenda di atas adalah untuk mengekalkan penjajahan AS dan sekutunya atas kaum Muslim. Allah SWT telah menyatakan dengan tegas bahwa penjajahan atas kaum Muslim adalah haram:
﴿وَلَن يَجْعَلَ الَّلهُ لِلْكٰفِرِينَ عَلَى الْمُؤمِنِينَ سَبِيلاً﴾

 

Allah sekali-kali tidak akan memberi orang-orang kafir jalan untuk memusnahkan orang-orang yang Mukmin (QS an-Nisa’ [4]:141).

 

Karena itu, kaum Muslim harus melepaskan diri dari penjajahan AS sebagai negara adidaya pengusung utama ideologi Kapitalisme. Satu-satunya jalan untuk bisa keluar dari penjajahan AS adalah dengan menegakkan kembali sistem kehidupan Islam dalam naungan Khilafah Islam. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. []

Iklan

Agustus 29, 2009 Posted by | Islamic Center | Tinggalkan komentar

bush-mengancam-khilafah

resize-of-farid-w-800.jpgDalam pidatonya pada konvensi Tentara Amerika ke-89 (28/8/2007), Presiden Bush berbicara mengenai “ekstremis” yang harus dilawan Amerika. Dia berbicara dalam konteks sensasional bahwa “ekstremis” adalah “keinginan untuk menjejalkan visi gelap yang sama sepanjang Timur Tengah dengan menegakkan Kekhilafahan radikal dan penuh kekerasan yang wilayahnya membentang dari Spanyol ke Indonesia. “These extremists hope to impose that same dark vision across the Middle East by raising up a violent and radical caliphate that spans from Spain to Indonesia,” tegasnya.

Dalam rangkaian kunjungan kerjanya ke Australia menghadiri sidang APEC baru-baru ini, Bush juga mengajak para pemimpin Muslim untuk melawan pihak-pihak yang ingin menegakkan syariah dan Khilafah. “Kita harus membuka lembaran baru dalam perang melawan musuh kebebasan; melawan mereka yang di awal abad XXI ini menyerukan kaum Muslim untuk mengembalikan Khilafah dan penerapan syariah,” demikian dalam suatu wawancara untuk IA Malaysia yang dikutip oleh ITAR-TASS. (http://www.demaz.org, Kamis, 6/9/2007).

resize-of-dariredaksi.jpg

Ancaman Bush ini semakin menegaskan kerisauan Barat terhadap perjuangan kaum Muslim untuk menegakkan kembali Khilafah yang akan menerapkan syariah Islam dan menyatukan umat Islam di seluruh penjuru dunia. “Persatuan di kalangan umat Islam, umat yang selama ini berada di hampir seluruh wilayah penghasil sumber energi dunia, merupakan mimpi buruk terbesar bagi AS,” kata Chomsky. (Eramuslim.com, 1/8/2007].

Khilafah sebagai pemersatu adalah monster yang sangat menakutkan Barat. Mereka tentu saja belajar dari pemimpin mereka sebelumnya yang mengerti kekuatan umat Islam ada pada dua hal: Khilafah dan Islam. Lord Carzen, Menlu Inggris pada tahun 1924, pernah menyebut Turki (Khilafah Ustmaniyah) yang tidak akan bangkit lagi. “Karena kita telah menghancurkan kekuatan spritualnya: Islam dan Khilafah,” ujar Lord Carzen.

Ancaman Bush dan sekutunya yang berulang-ulang ini juga sebenarnya menunjukkan ‘keyakinan’ mereka, bahwa Khilafah sangat mungkin tegak kembali. Ini sekaligus membantah pandangan beberapa pihak yang kontra Khilafah yang berulang-ulang mengatakan tegaknya Khilafah adalah mimpi, utopia dan sekadar romantisme. Padahal kalau memang sekadar mimpi dan romantisme, mengapa Barat demikian khawatir terhadap ide Khilafah Islam? Para pemimpin Barat tentu sangat mengerti adanya keinginan kuat dari umat Islam untuk mengembalikan Khilafah di tengah-tengah kaum Muslim. Tentu bukan sekadar lelucon kalau badan intelijen AS, NIC, dalam Mapping the Global Future, menulis salah satu skenario dunia pada 2020, yakni berdirinya kembali Khilafah Islam.

Amran Nasution, mantan Redaktur TEMPO dan GATRA, (Hidayatullah, 27/8/2007), mengungkap kecenderungan ini dengan mengutip survei http://www.worldpublicopinion.org. Survey yang dilaksanakan di empat negara Islam—Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Maroko—Desember 2006 sampai Februari 2007 itu menunjukkan bahwa mayoritas (2/3 responden) menyetujui penyatuan semua negara Islam ke dalam sebuah pemerintahan Islam (Khilafah). Hasil survei itu juga—bekerjasama dengan University of Maryland—memperlihatkan bahwa mayoritas responden (sekitar 3/4) setuju dengan upaya untuk mewajibkan syariah Islam di tengah masyarakat, sekaligus mencampakkan nilai-nilai Barat dari seluruh negeri Islam. Khusus untuk Indonesia, survei menunjukkan bahwa mayoritas (53%) responden menyetujui pelaksanaan syariah Islam. Itu adalah prosentasi terkecil dibandingkan dengan Pakistan (79%), Mesir (74%) dan Maroko (76%).

Mencampakkan nilai Barat tampaknya sejalan dengan keinginan menjalankan syariah Islam. Survei oleh Pew Reseach Center—lembaga riset independen terkemuka di Washington—yang diumumkan akhir Juni lalu juga menunjukkan bahwa 66% responden Indonesia membenci Amerika Serikat. Angka 66% pembenci Amerika itu tentu sejalan dengan 53% responden Indonesia yang menginginkan dilaksanakannya kewajiban menjalankan syariah Islam.

Kekhawatiran akan kembalinya Khilafah membuat Bush dan sekutu Kapitalisme melakukan apa saja, termasuk mengaitkan perjuangan penegakan syariah dan Khilafah dengan terorisme. Dalam pidato tanggal 28/08/2007, Bush mengatakan, para “ekstremis” yang ingin menegakkan Khilafah melakukan pembunuhan terhadap umat Islam di Aljazair, Yordania, Mesir dan Arab Saudi untuk menggulingkan pemerintahan.

Tuduhan ini jelas konyol dan merupakan upaya penyesatan politik. Taji Mustafa, representasi media HT Inggris, mengatakan, “Pemimpin Barat lagi-lagi berupaya mengaitkan penegakan Khilafah dengan kekerasan. Padahal hanya 2 minggu lalu, 100,000 orang berkumpul sebagai bagian dari kampanye politik di Indonesia menyerukan penegakan kembali Kekhilafahan. Aksi ini merepresentasikan arus utama opini politik Muslim tanpa kekerasan. Aksi serupa ada di Palestina, Malaysia, Lebanon, dan Sudan. Sepanjang wilayah Dunia Islam, ada pergerakan massa non-kekerasan menginginkan kembali tegaknya Kekhilafahan untuk membebaskan manusia dari diktator brutal yang di dukung Barat, yang merupakan sekutu dari Pemerintah AS dan Inggris.”

“Tuduhan Bush bahwa aspirasi masyarakat untuk menegakkan Kekhilafahan dari Spanyol ke Indonesia memutarbalikkan fakta…Invasi brutal ke Irak menyebabkan kematian lebih dari 650,000 sipil. Ini menunjukkan bahwa pemerintah Barat telah siap melakukan apapun untuk mengejar supremasi mereka dengan mengekspor ideologi ‘demokrasi dan kebebasan’ mereka,” tegas Taji Mustafa.

Karena itu, kita sangat menyayangkan kalau ada pemimpin negeri Islam, termasuk tokoh maupun ulama, yang justru berpihak pada ajakan Bush untuk menyerang dan menghalangi pembentukan Khilafah Islam di Indonesia. Tindakan ini jelas tidak berpihak kepada Islam dan kaum Muslim yang ingin bebas dari penjajahan Kapitalisme global. Menghalangi tegaknya Khilafah justru akan memperkokoh penjajahan Amerika Serikat dan sekutunya yang telah membunuhi jutaan kaum Muslim dan merampas kekayaan alam negeri-negeri Islam.

Oktober 1, 2007 Posted by | Islamic Center | Tinggalkan komentar

kehancuran-peradaban-barat

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْقُرَى نَقُصُّهُ عَلَيْكَ مِنْهَا قَائِمٌ وَحَصِيدٌ۝ وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ ظَلَمُواfokus-300.jpg أَنْفُسَهُمْ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ۝

Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri yang Kami ceritakan kepada kalian. Beberapa di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada yang telah musnah. Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Karena itu, tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sesembahan-sesembahan yang mereka seru selain Allah sewaktu azab Tuhan kalian datang. Sesembahan-sesembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (QS Hud [11]: 100-101).

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ۝

Adapun kaum ‘Ad menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?” Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Namun, mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) kami. (QS Fushshilat [41]: 15).

Sejak kehancuran Khilafah Islam pada abad yang lalu, peradaban Barat mulai mendominasi dunia secara politis, militer dan ekonomi. Peradaban Barat menjadi amat bangga akan kemajuan yang dicapainya dan saat ini menyebarkan ideologinya dengan gigih di Dunia Islam. Kepada kita dikatakan bahwa peradaban Barat adalah universal dan merupakan jalan satu-satunya bagi kemajuan dan pencerahan. Bush berkata, “Peradaban Barat bukanlan nilai-nilai Amerika atau—seperti Anda tahu—bukan nilai-nilai Eropa. Peradaban Barat adalah nilai-nilai yang universal. Karena universal, nilai-nilai itu harus diterapkan di seluruh tempat.”

Blair juga berkata, “Peradaban kita bukanlah nilai-nilai Barat, ia adalah nilai-nilai universal dari semangat kemanusiaan. Di manapun…di manapun, kapan saja, rakyat biasa diberikan kesempatan untuk memilih. Pilihannya adalah sama: kebebasan, bukan tirani; demokrasi, bukan diktator; tertib hukum, bukan hukum dari polisi rahasia.”

Sering dikatakan kepada kita, bahwa peradaban Islam hanya ada dalam lembaran buku sejarah; bahwa mereka yang menginginkan Islam, syariah dan Khilafah adalah orang yang berbicara mengenai keterbelakangan dan kegelapan.

Namun, apa yang tidak ditunjukkan oleh Barat adalah jurang eksploitasi yang dalam, kekacauan, dan keputusasaan yang telah diciptakan Kapitalisme di seluruh dunia. Propaganda Barat tidak mampu menyem-bunyikan kemunduran dan kerusakan peradaban ini—suatu masalah yang memang telah jelas bagi kita semua. Ketika mereka menyebarkan nilai-nilai dan ideologi mereka kepada dunia dengan cara yang sangat arogan sembari memfitnah peradaban Islam, maka mereka telah mencoba untuk menyembunyikan keputusasaan yang mereka buat kepada masyarakat mereka sendiri dan di seluruh dunia.

Percampuran antara materialisme dan kebebasan individu tanpa batas telah menyebabkan kekerasan yang mewabah, penggunaan obat bius, dan alkohol; pengabaian orang lanjut usia, kemiskinan, kerusakan pada keluarga, kekosongan spiritual, rasisme, dll. Penyalahgunaan obat meningkat pesat. Depresi dan mewabahnya pesta minuman keras makin tinggi.

Di Inggris angka resmi menunjukkan bahwa peminum minuman keras yang “berbahaya dan membahayakan” mencapai angka 7,1 juta orang. Pada dekade lalu, orang yang masuk rumah sakit karena sebab yang berkaitan dengan alkohol telah berjumlah dua kali lipat. Lebih dari seperlima wanita di Inggris menjadi korban kekerasan seksual sejak`anak-anak. Setiap menit di Inggris, polisi menerima telepon dari masyarakat yang meminta bantuan karena kekerasan rumah tangga. Satu dari 4 wanita di Inggris telah mengalami pemerkosaan atau dicoba untuk diperkosa. Setiap minggu di Inggris, satu hingga dua anak mati karena kekejaman; satu dari tiga anak-anak hidup dalam kemiskinan. Di Inggris, lebih dari 25 persen dari semua pemerkosaan yang dicatat oleh polisi adalah dilakukan terhadap anak-anak di bawah usia 16 tahun; setengah juta orang usia lanjut diperlakukan dengan kasar, terutama karena tidak mempedulikan mereka. Utang konsumen di Inggris berada pada angka £ 1.3 triliun, suatu angka yang mengejutkan.

Jurang antara orang kaya dan orang miskin terus melebar. Tiga belas ribu keluarga terkaya di Amerika saat ini memiliki pendapatan yang sama dengan 20 juta orang penduduk paling miskin. Tiga belas ribu keluarga itu memiliki pendapatan 300 kali lipat dari pendapatan keluarga rata-rata.


Situasi Global

Secara global, peradaban Barat telah menciptakan tata dunia yang tidak adil yang dicirikan oleh imperialisme melalui penggunaan utang, perdagangan yang tidak adil, dukungan bagi para diktator dan tiran, dan pendudukan yang ilegal. Pada saat yang sama, peradaban ini mengurangi kebebasan sipil di rumah dengan cara menakut-nakuti.

Mereka berbicara soal penentuan nasib sendiri dan demokrasi, tetapi mendukung diktator di seluruh Dunia Islam, seperti Mubarak dan Karimov, dan mencegah keinginan masyarakat untuk kembali pada Islam, syariah dan Khilafah.

Mereka berbicara soal supremasi hukum dan membawa perdamaian di Timur Tengah. Kenyataannya, mereka menjajah dan menjarah; menduduki tanah-tanah orang, seperti di Irak, membunuh lebih dari 650,000 ribu jiwa.

Mereka berbicara soal keringanan utang. Nyatanya, mereka memperbudak seluruh negera di bawah belenggu IMF dan Bank Dunia.

Mereka berbicara soal pemberantasan korupsi, tetapi menyogok ratusan juta dolar kepada para penguasa di negeri-negeri Muslim untuk mendapatkan kontrak dagang.

Mereka berbicara soal HAM. Namun, sejumlah fakta—seperti Guantanamo Bay, Abu Ghraib, Patriot Act, Undang-undang anti-teroris yang tersamar; menghentikan dan menggeledah, penahanan, penyiksaan, penawanan tanpa proses pengadilan; menganggap tersangka sebagai zalim, interogasi yang brutal dan perang-perang yang ilegal dan imperialistis—adalah bukti-bukti atas sebuah peradaban yang telah memasuki kemunduran yang permanen.

Nilai-nilai, prinsip, dan tradisi dari Peradaban Barat telah dijual murah. Negara-negara Barat saat ini telah kehilangan otoritas moralnya.


Propaganda yang Gagal

Peradaban Islam (saat ini) tidak memiliki negara yang mengembannya. Ia juga tidak memiliki tentara dan senjata untuk mempertahankannya. Sebaliknya, Peradaban Barat dihiasi dengan senjata, tentara dan teknologi serta dominasi politik, militer dan ekonomi. Namun, walaupun semua itu dilakukan, propaganda pemerintahan Barat mulai melemah.

Kaum Muslim yang tinggal di Barat, yang setiap hari dicekoki Kapitalisme, saat ini semakin bersatu dengan kaum Muslim di Dunia Islam untuk menentang kebijakan kapitalistik serta melawan pendudukan, pemecahan tanah kita dan campur tangan asing demi tegaknya syariah dan Khilafah.

Pada saat ini, bahkan kaum non-Muslim pun, walaupun ada propaganda, mulai menilai Islam sebagai sebuah agama dan sebuah sistem. Beberapa di antara mereka masuk Islam dan berjuang untuk Islam. Sebagian yang lainnya tidak lagi mempercayai propaganda pemerintah-pemerintah mereka. Seorang wanita yang masuk Islam setelah Peristiwa 11 September mengatakan, bahwa sebelum ‘perang melawan teror’ dia tidak mengetahui siapakah Muhammad saw. Namuan, saat ini dia ridha mempertaruhkan nyawanya untuk Beliau.

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ۝

Ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadap kalian untuk menangkap dan memenjarakan kalian, membunuh kalian, atau mengusir kalian (dari rumah kalian). Mereka memikirkan tipudaya dan Allah menggagalkan tipudaya itu. Allah Sebaik-baik pembalas tipudaya. (QS al-Anfal [8]: 30).


Wahai kaum Muslim dan Muslimah!

Walaupun negara kita tidak ada pada saat ini, akhir segalanya akan berpihak pada peradaban Islam, karena peradaban Barat didasarkan pada kebatilan dan peradaban Islam didasarkan pada kebenaran. Allah Swt. berfirman:

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ۝

Sebenarnya Kami melontarkan yang haq pada yang batil, lalu yang haq itu menghancurkannya sehingga dengan serta-merta yang batil itu lenyap.(QS al-Anbiya [21]: 18).

Wahai kaum Muslim dan Muslimah!

Kekalahan Peradaban Barat terbukti dari tindakan-tindakannya yang menunjukkan keputusasaan. Pendudukan, penyiksaan, penahanan dan propaganda bukanlah tindakan-tindakan dari peradaban yang kuat, melainkan tindakan dari peradaban yang sakit.

Propaganda melawan Islam, pengemban syariah, Khilafah dan dakwah adalah karena pemerintah-pemerintah Barat mengetahui bahwa mereka sedang menghadapi kebangkitan kembali Islam di seluruh dunia. Tindakan mereka adalah seperti usaha membuat parit yang terakhir dari peradaban kapitalis yang sedang tenggelam.

Karena itu, kokohkanlah keyakinan Anda, dan berikan loyalitas Anda pada Islam dan kaum Muslim. Jangan biarkan kepalsuan dan pengaruhnya membuat Anda cemas, karena tingkatan ini hampir usai. Batas yang menggambarkan hasil kerja orang-orang yang bekerja untuk menegakkan Khilafah telah meningkat pada tingkat yang mengagumkan. Langkah-langkah menuju kemenangan menjadi semakin dekat dari hari ke hari.

Keimananan kita kepada Allah Swt. adalah besar. Harapan kita akan kemenangan yang dekat ini tidak tersentuh bahkan dengan sebuah ucapan. Allah Swt. memiliki kekuasaan yang mutlak atas apa yang Dia kehendaki, tetapi kebanyakan manusia tidak tahu. Allah—segala pujian milik-Nya—berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ۝

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia pun akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. (QS an-Nur [24]: 55).

Wallâh u‘alam bi ash-shawâb. [Dr. Imran Waheed; Jurubicara Hizbut Tahrir Inggris]

September 30, 2007 Posted by | Islamic Center | Tinggalkan komentar

apakahKhilafahIslamiyyahHanyaBerumur30tahunDanSelebihnyaKerajaan

 

Sebagian kaum muslim ada yang berpendapat bahwa masa kekhilafahan hanya berumur 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan. Mereka mengetengahkan hadits-hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan ulama-ulama lainnya.

Rasulullah saw bersabda, ”Setelah aku, khilafah yang ada pada umatku hanya berumur 30 tahun, setelah itu adalah kerajaan.”[HR. Imam Ahmad, Tirmidziy, dan Abu Ya’la dengan isnad hasan]

“Khilafah itu hanya berumur 30 tahun dan setelah itu adalah raja-raja, sedangkan para khalifah dan raja-raja berjumlah 12.”[HR.. Ibnu Hibban]

“Sesungguhnya awal adari agama ini adalah nubuwwah dan rahmat, setelah itu akan tiba masa khilafah dan rahmat, setelah itu akan datang masa raja-raja dan para diktator. Keduanya akan membuat kerusakan di tengah-tengah umat. Mereka telah menghalalkan sutr, khamer, dan kefasidan. Mereka selalu mendapatkan pertolongan dalam mengerjakan hal-hal tersebu; mereka juga mendapatkan rejeki selama-selamanya, sampai menghadap kepada Allah swt.”[HR. Abu Ya’la dan Al-Bazar dengan isnad hasan]

Hadits-hadits inilah yang dijadikan dalil bahwa masa kekhilafahan itu hanya 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan. Lebih dari itu, mereka juga menyatakan bahwa perjuangan menegakkan khilafah Islamiyyah hanyalah perjuangan kosong dan khayalan. Sebab, Rasulullah saw telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa masa kekhilafahan itu hanya berumur 30 tahun. Walhasil, kekhilafahan tidak mungkin berdiri meskipun diperjuangkan oleh gerakan-gerakan Islam. Kalau pun pemerintahan Islam berdiri bentuknya tidak khilafah akan tetapi kerajaan.

Lalu, apakah benar bahwa hadits-hadits di atas dalalahnya menunjukkan bahwa umur khilafah Islamiyyah itu hanya 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan?

Untuk menjawab pendapat-pendapat ini kita harus menjelaskan satu persatu maksud dari hadits-hadits di atas.


Hadits Pertama

Kata khilafah yang tercantum dalam hadits pertama maknanya adalah khilafah nubuwwah, bukan khilafah secara mutlak.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bariy berkata, “Yang dimaksud dengan khilafah pada hadits ini adalah khilafah al-Nubuwwah (khilafah yang berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip nubuwwah), sedangkan Mu’awiyyah dan khalifah-khalifah setelahnya menjalankan pemerintahan layaknya raja-raja. Akan tetapi mereka tetap dinamakan sebagai khalifah.” Pengertian semacam ini diperkuat oleh sebuah riwayat yang dituturkan oleh Imam Abu Dawud,”Khilafah Nubuwwah itu berumur 30 tahun”[HR. Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no.4646, 4647]

Yang dimaksud khilafah Nubuwwah di sini adalah empat khulafaur Rasyidin; Abu Bakar, ‘Umar , ‘Utsman, dan Ali Bin Thalib. Mereka adalah para khalifah yang menjalankan roda pemerintahan seperti Rasulullah saw. Mereka tidak hanya berkedudukan sebagai penguasa, akan tetapi secara langsung benar-benar seperti Rasulullah saw dalam mengatur urusan pemerintahan. Sedangkan kebanyakan khalifah-khalifah dari dinasti Umayyah, ‘Abbasiyyah dan ‘Utsmaniyyah banyak yang tidak menjalankan roda pemerintahan seperti halnya Rasulullah saw, namun demikian mereka tetap disebut sebagai amirul mukminin atau khalifah.

Ada diantara mereka yang dikategorikan sebagai khulafaur rasyidin, yakni Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang dibaiat pada bulan Shafar tahun 99 H. Diantara mereka yang menjalankan roda pemerintahan hampir-hampir dekat dengan apa yang dilakukan oleh Nabi saw, misalnya Al-Dzahir bi Amrillah yang dibaiat pada tahun 622 H. Ibnu Atsir menuturkan, “Ketika Al-Dzahir diangkat menjadi khalifah, keadilan dan kebaikan telah tampak di mana-mana seperti pada masa khalifah dua Umar (Umar bin Khaththab dan Ibnu Umar). Seandainya dikatakan, “Dirinya tidak ubahnya dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz, maka ini adalah perkataan yang baik.”

Para khalifah pada masa-masa berikutnya meskipun tak ubahnya seorang raja, akan tetapi mereka tetap menjalankan roda pemerintahan berdasarkan sistem pemerintahan Islam, yakni khilafah Islamiyyah. Mereka tidak pernah menggunakan sistem kerajaan, kesultanan maupun sistem lainnyan. Walaupun kaum muslim berada pada masa-masa kemunduran dan keterpurukan, namun mereka tetap menjalankan roda pemerintahan dalam koridor sistem kekhilafahan bukan dengan sistem pemerintahan yang lain. Walhasil, tidak benar jika dinyatakan bahwa umur khilafah Islamiyyah itu hanya 30 tahun. Yang benar adalah, sistem kekhilafahan tetap ditegakkan oleh penguasa-penguasa Islam hingga tahun 1924 M.


Hadits Kedua & Ketiga

Kata “al-muluuk”(raja-raja) dalam hadits di atas bermakna adalah,” Sebagian tingkah laku dari para khalifah itu tidak ubahnya dengan raja-raja”. Hadits di atas sama sekali tidak memberikan arti bahwa mereka adalah raja secara mutlak, akan tetapi hanya menunjukkan bahwa para khalifah itu dalam hal-hal tertentu bertingkah laku seperti seorang raja. Fakta sejarah telah menunjukkan pengertian semacam ini. Sebab, para khalifah dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah tidak pernah berusaha menghancurkan sistem kekhilafahan, atau menggantinya dengan sistem kerajaan. Mereka tetap berpegang teguh dengan sistem kekhilafahan, meskipun sebagian perilaku mereka seperti seorang raja.

Meskipun kebanyakan khalifah pada masa dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah ditunjuk selagi khalifah sebelumnya masih hidup dan memerintah, akan tetapi proses pengangkatan sang khalifah tetap dilakukan dengan cara baiat oleh seluruh kaum muslim; bukan dengan putra mahkota (wilayat al-‘ahdi).

Makna yang ditunjuk oleh frasa “dan setelah itu adalah raja-raja” adalah makna bahasa, bukan makna istilah. Dengan kata lain, arti dari frasa tersebut adalah “raja dan sultan” bukan sistem kerajaan dan kesultanan. Atas dasar itu, dalam hadits-hadits yang lain dinyatakan bahwa mereka adalah seorang penguasa (khalifah) yang memerintah kaum muslim dengan sistem khilafah. Dituturkan oleh Ibnu Hibban, “Rasulullah saw bersabda,”Setelah aku akan ada para khalifah yang berbuat sebagaimana yang mereka ketahui dan mengerjakan sesuatu yang diperintahkan kepada mereka. Setelah mereka berlalu, akan ada para khalifah yang berbuat tidak atas dasar apa yang diketahuinya dan mengerjakan sesuatu tidak atas apa yang diperintahkan kepada mereka. Siapa saja yang ingkar maka ia terbebas dari dosa, dan barangsiapa berlepas diri maka ia akan selamat. Akan tetapi, siapa saja yang ridlo dan mengikuti mereka maka ia berdosa.”

Penjelasan di atas sudah cukup untuk menggugurkan pendapat yang menyatakan bahwa sistem khilafah Islamiyyah hanya berumur 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan. Hadits-hadits yang mereka ketengahkan sama sekali tidak menunjukkan makna tersebut. Sistem khilafah Islamiyyah tetap berlangsung dan terus dipertahankan di sepanjang sejarah Islam, hingga tahun 1924 M. Meskipun sebagian besar khalifah dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah bertingkah laku tak ubahnya seorang raja, namun mereka tetap konsisten dengan sistem pemerintahan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw, yakni khilafah Islamiyyah.

Tugas kita sekarang adalah berjuang untuk menegakkan kembali khilafah Islamiyyah sesuai dengan manhaj Rasulullah saw. Sebab, tertegaknya khilafah merupakan prasyarat bagi tersempurnanya agama Islam. Tidak ada Islam tanpa syariah, dan tidak ada syariah tanpa khilafah Islamiyyah.

September 27, 2007 Posted by | Islamic Center | Tinggalkan komentar

menghadang-islam-dengan-asas-tunggal

 

HTI-Press—Munculnya kembali gagasan untuk menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal partai politik dalam Rancangan Undang-Undang Partai Politik merupakan wujud sikap ketakutan terhadap bangkitnya umat Islam di negeri ini. ’’Tampaknya ada ketakutan terhadap Islam politik,’’ kata Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia M Ismail Yusanto dalam diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) ke-31 di Jakarta, Senin (24/9) kemarin.

Diskusi bulanan yang bertajuk, ’’Kembali ke asas tunggal, untuk apa?’’ menghadirkan empat pembicara yakni Idrus Marham (Fraksi Partai Golkar), Idham (Fraksi PDIP), Lukman Hakiem (Fraksi PPP), dan jubir HTI. Acara ini dihadiri lebih dari 300 orang, di luar kapasitas kursi yang disediakan. Tampak tokoh-tokoh ormas pun secara serius mengikuti jalannya acara yang berlangsung menjelang buka puasa itu.

Menurut jubir HTI, secara logika usulan kembali ke asas tunggal yang diusung oleh Partai Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat itu tidak logis. Berbagai persoalan di negeri ini, lanjutnya, bukan disebabkan oleh faktor asas tunggal atau tidak. Tapi negeri ini telah dikelola menggunakan ideologi kapitalisme-sekuler. ’’Usulan ke asas tunggal tidak menunjukkan hubungan antara problem dan solusi,’’ katanya.

Sebelumnya, Idrus Marham tetap ngotot bahwa asas tunggal ini merupakan kebutuhan sekarang guna dijadikan platform bersama. Ia beralasan demokrasi harus ada komitmen. Nah komitmen itu harus diwujudkan secara tegas dan jelas. Ia juga berpendapat ketiadaan asas bersama, sebutnya, menimbulkan berbagai separatisme.

Munarman, salah satu peserta, membantah pendapat Idrus. Menurutnya, di negara demokrasi manapun, tidak ada yang mencamtumkan asas negaranya. Pencamtuman hanya terjadi di negara komunis yang otoriter.

Ismail juga mempertanyakan bagaimana kaitan ketiadaan asas tunggal dan separatisme. Menurutnya, di daerah yang muncul separatisme, pemenang pemilu justru Golkar dan PDIP, bukan partai-partai berlandaskan Islam. Bahkan di beberapa daerah yang membuat Perda Syariah pun, pemenang pemilunya adalah Golkar.

Anggota Pansus RUU PP, Idham, mengatakan soal asas tunggal ini partainya tak terlalu risau atau gamang. Ia pun sependapat bahwa tidak ada kaitan antara munculnya asas tunggal dan perda-perda syariah. ’’Jangan benturkan antara aqidah dan konsep dunia,’’ katanya seraya menambahkan bahwa ini adalah pendapat pribadinya. ’’Jangan dituding kami mendukung asas tunggal. Saya marah kalau dituding begitu,’’ tambahnya dengan suara lantang.

Wakil ketua FPPP Lukman Hakiem menyatakan usulan kembali ke asas tunggal itu sebagai ahistoris. Ia mengutip pernyataan Soekarno yang menyatakan bahwa ’’Buat saya yang paling penting kita harus menjaga persatuan dan kesatuan’’. Ia juga heran terhadap mereka yang mengusung asas tunggal ini. Soalnya tahun 1998, asas tunggal ini baru dicabut. ’’Seolah-olah problem kok di situ. Kalu mau jujur, sebenarnya Pancasila itu dimana tempatnya. Sebab, UUD 45 menyatakan bahwa negara berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa, bukan Pancasila. Janganlah kembali ke belakang,’’ kata Lukman.

Akhirnya, Idrus pun mengakui bahwa Pancasila memang tidak operasional. Karenanya, ia mengusulkan ada perdebatan konseptual.

Sementara itu KH Cholil Ridwan, Ketua MUI menyatakan Islam tidak boleh dipisahkan antara kepentingan negara dan individu. ’’Kalau mengaku Islam, di mana pun posisinya, harus mendukung Islam. Jangan malah menghalang-halangi!,’’ tegasnya yang disambut takbir para peserta. <Mujiyanto>

September 27, 2007 Posted by | Islamic Center | Tinggalkan komentar

Tokoh Liberal Itu Ternyata Suka Minum Bir

Datang ke Indonesia, tokoh liberal Abdullah al-Na’im tidak saja menjajakan ide-ide sekuler Barat, ia juga mempromosikan kehidupan khas Barat. Selama berkunjung ke Indonesia, Al-Naim ternyata terbiasa minum bir.

“Teman saya, panitia acara itu, kecewa dengan sikap al-Na’im. Ketika jamuan malam di hotel tempat dia menginap, rupanya dia biasa minum bir. Teman saya itu betul-betul kaget dan kecewa, ” ujar Prof. Dr. Amany Burhanuddin Lubis.

Ironisnya lagi, katanya, sikap yang ditunjukkan pemikir liberal dari Emory University, Atlanta, Georgia, U. S. A. tidak simpatik di depan umum. Misalnya, ketika jamuan malam, Al-Naim malah mengenakan celana pendek. ”Teman saya bilang dia sangat malu, ” tegasnya.

Karena itu, sambung guru besar bidang sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, banyak pihak yang menolak kehadiran al-Na’im. ”Saat datang ke UIN, Bu Huzaemah (Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo, ahli fiqh dan anggota MUI, red) bilang kepada al-Naim, Anda tidak perlu mengajari kami tentang bernegara dan bersyari’at. Kami punya cara sendiri, dan itu tidak mengganggu negara. Anda sendiri tidak punya negara, ” papar Amany menirukan.

Sementara itu, Dr. Fahmy Hamid Zarkasyi, peneliti Institute for The Study of Thought and Civilization (INSIST) menyatakan, al-Na’im tidak saja mengejek kita tentang bernegara dan bersyari’at Islam. Tapi, katanya, ia juga tidak mengakui adanya institusi ulama dan syari’ah dalam Islam. ”Ia betul-betul liberal kaffah. Ini tantangan yang harus kita hadapi, ” ujar Hamid.

Hamid mengungkapkan, ketika al-Naim dipanelkan dengan juru bicara Hizbut Tahrir Ismail Yusanto, Al-Naim menyebut Ismail Yusanto tidak mengerti masalah yang dibahas dalam buku karyanya. (rz/dina)[Rabu, 29 Agu 07; eramuslim.com]Datang ke Indonesia, tokoh liberal Abdullah al-Na’im tidak saja menjajakan ide-ide sekuler Barat, ia juga mempromosikan kehidupan khas Barat. Selama berkunjung ke Indonesia, Al-Naim ternyata terbiasa minum bir.

“Teman saya, panitia acara itu, kecewa dengan sikap al-Na’im. Ketika jamuan malam di hotel tempat dia menginap, rupanya dia biasa minum bir. Teman saya itu betul-betul kaget dan kecewa, ” ujar Prof. Dr. Amany Burhanuddin Lubis.

Ironisnya lagi, katanya, sikap yang ditunjukkan pemikir liberal dari Emory University, Atlanta, Georgia, U. S. A. tidak simpatik di depan umum. Misalnya, ketika jamuan malam, Al-Naim malah mengenakan celana pendek. ”Teman saya bilang dia sangat malu, ” tegasnya.

Karena itu, sambung guru besar bidang sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, banyak pihak yang menolak kehadiran al-Na’im. ”Saat datang ke UIN, Bu Huzaemah (Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo, ahli fiqh dan anggota MUI, red) bilang kepada al-Naim, Anda tidak perlu mengajari kami tentang bernegara dan bersyari’at. Kami punya cara sendiri, dan itu tidak mengganggu negara. Anda sendiri tidak punya negara, ” papar Amany menirukan.

Sementara itu, Dr. Fahmy Hamid Zarkasyi, peneliti Institute for The Study of Thought and Civilization (INSIST) menyatakan, al-Na’im tidak saja mengejek kita tentang bernegara dan bersyari’at Islam. Tapi, katanya, ia juga tidak mengakui adanya institusi ulama dan syari’ah dalam Islam. ”Ia betul-betul liberal kaffah. Ini tantangan yang harus kita hadapi, ” ujar Hamid.

Hamid mengungkapkan, ketika al-Naim dipanelkan dengan juru bicara Hizbut Tahrir Ismail Yusanto, Al-Naim menyebut Ismail Yusanto tidak mengerti masalah yang dibahas dalam buku karyanya. [eramuslim.com]

September 24, 2007 Posted by | Islamic Center | Tinggalkan komentar

Jangan Nodai Ramadhan Dengan Propaganda Anti Syariah

Ramadhan adalah bulan sangat istimewa bagi kaum Muslim. Sebab, seperti yang dikhutbahkan oleh Rasulullah saw., pada bulan Ramadhan ini Allah Swt. akan menaungi kaum Muslim dengan segala keagungan-Nya. Pahala amalan sunnah pada bulan ini setara dengan pahala amalan fardhu pada bulan lain. Pahala amalan fardhu sendiri di bulan ini dilipatgandakan. Bahkan di dalamnya terdapat satu malam—yakni Lailatul Qadar—yang lebih baik dari seribu bulan.

Shaum Ramadhan juga merupakan salah satu syiar Islam yang mampu menumbuhkan semangat persatuan seluruh kaum Muslim dari ufuk barat hingga ufuk timur. Kaum Muslim menjadi sadar, bahwa mereka adalah satu umat. Karena itu, pengkotak-kotakan umat dalam bungkus fanatisme golongan/partai/kelompok, kepentingan sesaat, dan penghormatan kepada manusia menjadi pudar oleh semangat Ramadhan yang satu.


Gerakan Menghadang Islam

Karena itu, sejatinya Ramadhan merupakan wadah penyucian diri (tazkiyah an-nafs) bagi kaum Muslim secara serentak di seluruh penjuru dunia. Namun, sayangnya, di bulan yang penuh rahmat ini, ada sekelompok orang yang justru melemparkan wacana yang akan berujung pada upaya pemberangusan Islam. Sebagaimana diberitakan oleh Republika (14/9) tiga fraksi di parlemen—Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, dan Partai Demokrat—berjanji akan terus berjibaku memperjuangkan aturan, bahwa partai politik (parpol) harus berasaskan Pancasila.

Menurut anggota Fraksi PDIP, Ganjar Pranowo, di Jakarta, Kamis (13/9), kalau parpol menggunakan asas Islam, maka ketika menjadi kepala daerah sering lahir peraturan daerah yang bernuansa syariah. Ketua Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, maupun Wakil Ketua Pansus RUU Parpol, Idrus Marham, ikut menegaskan usulan itu. ”Adanya konflik maupun gerakan separatisme merupakan indikasi pilar-pilar negara rapuh. Jadi, asas parpol adalah Pancasila harus dipertegas,” ungkap Idrus.

Dengan logika mereka, Islam seolah-olah dianggap sebagai pangkal sparatisme. Islam juga mereka tuduh sebagai faktor destruktif yang merusak negeri ini. Padahal, Islam tidak pernah mempunyai kesalahan terhadap negeri ini. Islam tidak pernah memerintah di negeri ini. Lalu, mengapa Islam selalu dituduh dan dicurigai merusak negeri ini?

Mari kita jujur bertanya kepada diri kita, siapakah yang menjual Indosat kepada Singapura? Siapa yang memberikan tambang emas di Irianjaya kepada Freeport? Siapa yang menyerahkan Blok Cepu kepada Exxon Mobil? Siapa yang meloloskan UU Migas, UU SDA dan UU lain yang jelas-jelas menguras kekayaan alam negeri kaya raya ini? Bukankah mereka yang melakukan semuanya itu adalah mereka yang selama ini sok Pancasilais dan Nasionalis? Lalu mengapa ketika semua kesalahan itu mereka perbuat, justru kesalahan urus negeri ini mereka lemparkan kepada Islam, atau pihak lain yang sebenarnya tidak pernah berkuasa?

Karena itu, isu ini sebenarnya merupakan masalah serius bagi kaum Muslim, apalagi disampaikan di bulan Ramadhan, yang seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak untuk menghormati Islam dan umat Islam dalam menjalankan syariat agamanya, justru mereka menodainya dengan menuduh Islam seolah-olah menjadi faktor perusak negeri ini. Belum lagi wacana tersebut menjadi tekad tiga fraksi besar di DPR. Dua di antaranya merupakan fraksi pendukung utama Pemerintah, sedangkan yang satunya lagi mendudukkan diri sebagai ’oposisi’. Karenanya, sejumlah hal perlu dicermati:

Pertama: Penyeragaman asas parpol tersebut merupakan kebijakan lama, yang pernah ditempuh oleh Orde Baru, yang intinya ingin menghabisi Islam. Dari pernyataan Ganjar di atas, jelas bahwa gagasan tersebut terkait dengan munculnya beberapa perda yang bernuansa syariah Islam. Ini menunjukkan, bahwa penyeragaman asas parpol akan dijadikan jalan untuk menghadang laju perjuangan penegakan syariah yang kian menggema di berbagai penjuru negeri.

Upaya seperti ini, sebelumnya juga pernah dilakukan oleh anggota Dewan beberapa waktu lalu. Ketika itu, muncul petisi yang ditandatangani oleh 56 anggota DPR untuk menolak perda bernuansa syariah. Petisi itu pun akhirnya kempes, karena terbukti secara konstitusional memang tidak ada permasalahan dengan perda-perda tersebut. Bahkan perda-perda itu terbukti berhasil secara signifikan menurunkan tindak kejahatan dan meningkatkan pendapatan daerah dari pos zakat, infak dan sedekah.

Kelihatannya, mereka sadar, bahwa mereka tidak mampu menghadang penegakan syariah dengan kekuatan intelektual dan politik. Karenanya, mereka berusaha menggunakan tangan besi, dengan membajak negara untuk menyeragamkan asas parpol.

Kedua: Penyeragaman ini juga tidak lepas dari pesanan asing. Setelah umat Islam di Indonesia sukses menyelenggarakan Konferensi Khilafah Internasional di Jakarta tanggal 12 Agustus 2007, George W. Bush tanggal 28 Agustus 2007 mengeluarkan pernyataan akan memerangi siapa saja yang akan menegakkan syariah dan Khilafah di Timur Tengah. Diikuti dengan pernyataan Bush yang lebih provokatif lagi, pada tanggal 6 September 2007, yang menyerukan kepada seluruh pemimpin Muslim untuk bersama-sama memerangi siapa saja yang hendak menegakkan syariah dan Khilafah. “We should open new chapter in the fight againts enemies of freedom, againts who in the beginning of XXI century call Muslims to restore caliphate and the spread sharia (Kita harus membuka bab baru perang melawan musuh kebebasan, melawan orang-orang yang di permulaan abad ke-21 menyerukan kaum Muslim untuk mengembalikan Khilafah dan menyebarluaskan syariah),” ungkapnya seperti yang dikutip dalam http://www.demaz.org.

Karena pola yang sama sedang terjadi di Pakistan, Libanon dan negeri-negeri kaum Muslim yang lain, tidak lama setelah Bush mengeluarkan pernyataan tersebut. Dengan kata lain, gagasan penyeragaman ini diwacanakan seolah-olah untuk kepentingan bangsa dan negara, padahal sebenarnya ini merupakan kepentingan asing yang ingin tetap melihat negeri ini carut marut, dan dipimpin oleh para politikus korup yang terus-menerus bisa mereka dekte. Sebab sudah menjadi rahasia umum, banyak UU yang lahir dari DPR ternyata tidak memihak kepada kepentingan rakyat dan negara, tetapi hanya memuaskan kepentingan parpol, bahkan pihak asing. Contoh: rencana renovasi Gedung DPR yang memerlukan biaya sedikitnya Rp 40 miliar yang disinyalir sebagai pemborosan APBN 2008; kandasnya interpelasi dalam kasus luapan lumpur PT Lapindo Brantas di Sidoarjo Jawa Timur; sikap ‘legowo’ para anggota Dewan yang menyerahkan begitu saja pengelolaan kawasan kaya minyak Blok Cepu kepada ExxonMobile; pengesahan sejumlah UU bernuansa liberal seperti UU SDA, UU Migas, UU Penanaman Modal dll yang memberikan keleluasan kepada para kapitalis asing untuk menguras sumberdaya alam negeri ini.

Namun, mereka lupa, bahwa masyarakat, khususnya umat Islam saat ini tidaklah sebodoh yang mereka bayangkan. Lihatlah, hasil Lembaga Survei Indonesia pada Mei 2007 tentang representasi aspirasi, ada sekitar 65% aspirasi pemilih yang dipersepsikan tidak terwakili oleh sikap dan perilaku tujuh partai politik besar. Dalam proporsi yang kurang lebih sama, pemilih merasa bahwa partai politik sejauh ini lebih banyak melakukan tindakan yang hanya menguntungkan kelompok-kelompok tertentu, dan hanya menguntungkan para pemimpin partai, bukan pemilih pada umumnya. Lalu pada survei Juli 2007 ditemukan bahwa di kalangan mereka yang berpendidikan perguruan tinggi, 80,2% mendukung gagasan adanya calon independen. Semua ini menunjukkan rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap parpol, yang sering bersembunyi di balik jargon Nasionalisme dan kepentingan bangsa, padahal sejatinya untuk kepentingan mereka sendiri.


Shaum, Syariah dan Khalifah adalah Benteng

Rasulullah saw. bersabda:

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ فَمَنْ اَصْبَحَ صَائِمًا فَلاَ يَجْهَلُ يَوْمَئِذٍ

Shaum adalah benteng dari api neraka. Karena itu, siapa saja yang berpuasa, janganlah hari itu berlaku jahil (melakukan perbuatan jahiliyah) (HR an-Nasa’i).

Imam as-Suyuthi di dalam kitab Syarah Sunan an-Nasa’i memaknai hadis tersebut dengan menyatakan, ”Janganlah ia melakukan perbuatan-perbuatan orang jahil.” Di antara sikap orang jahil adalah ketika disuruh mengimani Allah dan syariah-Nya, mereka menolak dan menganggap orang-orang yang menaati-Nya sebagai orang bodoh (sufahâ’). Padahal kata Allah, merekalah yang bodoh itu (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 13). Jadi, jelaslah shaum merupakan benteng bagi kaum Mukmin.

Namun, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tidak cukup hanya shaum yang menjadi benteng. Rasulullah saw. menyatakan bahwa perlu ada benteng lain. Itulah Imam/Khalifah yang menerapkan Islam. Beliau bersabda:

‏إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ ‏ ‏يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

Sesungguhnya Imam/Khalifah itu adalah benteng, tempat umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya. Jika ia memerintahkan ketakwaam kepada Allah ’Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya pahala. Jika ia memerintahkan selainnya, ia celaka. (HR Muslim).

Jelas, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa pemimpin dan pejabat semestinya justru menjalankan syariah Islam, bukan malah anti syariah. Jika tidak, wajar belaka jika umat kehilangan benteng. Muaranya, mereka dijadikan rebutan oleh pihak asing imperialis bersama para koleganya dari putra-putri Islam sendiri.

Karena itu, upaya penegakan syariah secara kâffah dalam naungan Khilafah Islamiyah semestinya menemukan momentumnya pada bulan Ramadhan. Dengan itulah umat mempunyai benteng. Dengan benteng itulah umat secara pribadi terjaga serta secara kolektif maju, makmur dan terbebas dari penjajahan Kapitalisme global. Sebaliknya, sikap anti-syariah dengan berbagai bentuknya merupakan pengingkaran terhadap Allah sekaligus penodaan terhadap kesucian dan kemuliaan bulan Ramadhan. Na‘ûdzu billâh min dzâlik. []

September 24, 2007 Posted by | Islamic Center | Tinggalkan komentar